Sejak menikah, bulan puasa sudah bukan menjadi bulan yang istimewa bagiku. Bulan suci yang ditunggu para umat islam, malah menjadi bulan yang penuh dengan ingatan duka -bagiku-.
Suami patriaki yang doyan makan, tidak pernah memberikan kesan baik selama tahun-tahun pernikahan kami menjalankan bulan puasa bersama. Meski sedang libur kerja -seharian dirumah- Dia tidak pernah membantu walaupun aku sedang jungkir balik mengurus rumah dan anak-anak. Hanya main Hp dan membuatku jengkel dengan candaannya yang tak lucu dan terkesan menghina.
Lambungnya yang besar, selalu mengeluh saat menjalani puasa. "Lemas, Lapar,Haus, Sakit". Persis seperti anak SD yang tidak tau apa itu hikmah puasa -yang bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus-. Dan menjalani puasa penuh dengan paksaan. Bukan kerelaan hati.
Alih-alih senang, aku malah trauma menjalani bulan puasa bersama suamiku. Bulan puasa yang harusnya baik, malah meninggalkan kenangan luka demi luka disetiap Tahun-tahun sebelumnya. Dan sepertinya Tahun ini juga begitu.
Aku membencinya. Jujur dari hati.
Suara sahur-sahur yang berisik dan gedubrakan dari para umat yang kurang adab. Perburuan Takjil, makanan yang tampak enak, namun mengundang keburukan di dalamnya -seolah jadi ajang tahunan semata- Cara menjalankan ibadah yang terlalu pamer dan dipublish. Suara mengaji di Toa masjid yang selalu berkumandang namun tidak ada merdunya. Hingga yang terakhir, saat tiba akan Hari Raya. Orang-orang hanya pamer. Pamer baju baru, kebersamaan keluarga yang penuh kemunafikan, pamer kue dan makanan yang berlimpah, sampai ungkapan basa basi menjijikkan orang-orang yang kepo tentang ini itu.
Aku Muak. Bisakah bulan puasa diskip.
Tahun depan saja..
😫😵🥴🤪
}}}}}
Terus...
Ada lagi hal pilu yang lain.
Bulan puasa terindah yang pernah kujalani adalah kenangan yang tak akan terlupakan bersama keluargaku yang dulu, ada papa mama kakak dan adikku. Yang terjadi jauh sebelum aku bertemu dengan suamiku. Jauh sebelum aku menikah dan punya anak seperti sekarang ini.
Di rumah nenek juga. Rumah besar penuh kenangan di saat bulan Ramadhan. Tak ada yang lebih indah dari itu.
Sahur berdua dengan nenek. Dibangunkan nenek dan disiapkan makanan lengkap dengan teh manis panasnya.
Sesuatu yang indah. Tak akan bisa lebih indah dari itu.
Seolah, aku sudah melewati Ramadhan yang paling indah. Jadi saat ini tidak ingin lagi menjalani Ramadhan yang lain. Sudah cukup.
----
Aku tau pemikiran seperti ini sangatlah salah.
Dan hanya satu Hal. Bulan puasa tahun ini, aku ingin menghafal surat yasin.
Setidaknya membacanya sebanyak mungkin, sampai setiap ayatnya menjadi bacaan ringan yang menempel dalam ingatanku.
Well, sampai disini dulu ungkapan hati -kampret- ini.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..