Sebenarnya aku tidak suka menangis. Aku juga tidak ingin menangis. Hanya saja dia menghinaku sudah keterlaluan.
Entah itu konteksnya bercanda. Atau memang sengaja. Tapi itu melukai hati dan perasaanku.
Jika aku kecewa karena ini, apakah kedepannya akan berdampak.
Bagaimana kita bisa kaya. Kalau dosa tetap diperbuat.
Sangat disayangkan, padahal cita-cita mu di dunia ingin jadi orang kaya.
Jika merujuk pada surat perdamaian dulu. Sepertinya aku sudah bisa menggugat cerai.
Hanya saja, dua orang saksi dalam surat itu, kakek dan papaku sudah meninggal dunia. Mereka tidak lagi bersaksi untukku. Tapi menjadi saksi untuk diri mereka sendiri.
Kalau mulai detik ini aku merencanakan hari untuk mengurus perpisahanku dengannya. Akankah Tuhan meng'ijabah.
Selain memberi uang dengan nilai yang sangat sedikit. Tidak ada dan tidak banyak lagi yang ku harap darinya.
Sifat Tempramen, Nafsuan, Manja luar biasa, atau jika dia mati lebih dulu. Ini semua malah menjadi masa depan yang lebih baik untuk hidupku dan anak-anak.
😥
Mungkin saat ini aku hanya sedang diberi cobaan.
Atau Teguran. Mungkin !
